Dapur Merah


Setelah posting tentang Selametan Rumah, ada beberapa pembaca *tsaahhh* dan teman-teman yang minta foto dapur nya dipajang disini secara lengkap. Mintanya pakai cerita pula seperti posting Dapur di rumah lama. Mbok ya main ke rumah aja, nanti diceritakan langsung.

Setelah menimbang-nimbang, baiklah mari coba ditulis. Jangan dibilang sombong atau pamer yaaaa.

Ini foto yang diambil oleh tim Tabloid Rumah, untuk edisi yang pernah saya ceritakan juga disini:

Saya udah lama mimpi pingin punya dapur yang membuat saya betah menghabiskan waktu didalamnya. Ukuran bukan masalah untuk saya, yang penting kebutuhan dasar sudah terakomodasi (ada kompor, tempat menyimpan barang dan tempat cuci piring). Saya senang mengumpulkan pernak pernik dapur sejak mulai menikah. Sayangnya pernak pernik itu hanya tersimpan rapih di dalam dus, karena kami pindah-pindah rumah kontrakan.

Dapur rumah lama, hanya berukuran 2×2. Tapi dari situ lumayan menghasilkan beberapa jenis makanan. Apalagi itu adalah rumah pertama kami, dapur pertama saya, dan kebetulan saat itu saya masih semangat untuk mencoba bereksperimen karena pengaruh milis masak yang saya ikuti. Di dapur itu lah, pertama kali nya saya berani menjual hasil karya sendiri. Malu punya mami yang bisa jalani usaha katering, sementara anaknya cuma mampu segini aja.

Begitu ada rencana untuk ‘geser’ rumah, saya langsung minta ruangan dimana saya berkuasa mengatur segala hal didalamnya. Masguh menyediakan ruangan berukuran 2×3 meter yang bisa saya gunakan sebagai daerah kekuasaan ratu rumah tangga hihihi. Pernak-pernik dapur yang sudah saya kumpulkan sejak lama, mulai terpasang. Alhamdulillah luas ruangan sedikit lebih besar dari dapur sebelumnya. Dilengkapi dengan jendela besar yang menghadap ke arah taman dan kolam ikan.

Saya pilih warna merah hanya karena sudah punya mixer merah sebelumnya. Biar mecing aja jagoan ganteng saya ini dengan ruangan sekitarnya. Hehehe norak yah, tapi memang saya tidak punya alasan lain. Setelah memilih warna ini, baru deh ngumpulin pernak pernik merah lainnya.

Dapur merah ini pernah dibahas khusus di Tabloid Rumah dengan judul ‘Dapur Merah Penuh Gairah’:

Mari bahas lebih detil …

Menurut fengshui, kompor yang berada di bawah jendela itu tidak bagus. Tapi saya tetap nekat meletakkannya disitu, semata-mata karena tidak mau mengeluarkan uang untuk beli exhaust fan *mak irit Mode ON*. Secara logika kompor yang ada di bawah jendela, apinya tidak stabil karena banyak angin. Tapi tidak masalah karena tutup kompor saya saat dibuka akan menghalangi angin *_^.

Sisi kiri dapur:

Bagian kiri atas penuh dengan lemari tempat menyimpan peralatan makan. Lemari dengan list merah atas berisi tempat saji lauk dan sayur untuk acara besar (pirex hias besar), yang bawah berisi piring dan mangkok untuk makan harian. Lemari putih di kanan berisi peralatan makan yang jarang digunakan seperti stok piring dan gelas untuk tamu, piring kue, botol minum anak-anak, dll. Sementara di dekat jendela ada tempat untuk meletakan microwave, itu toaster asal digeletakin diatasnya karena sering dipakai. Saat dipakai sih turun ke bawah, abis dipakai dan dibersihkan balik nongkrong diatas microwave lagi.

Bagian kiri bawah ada sink untuk tempat cuci piring dengan ukuran besar, rak diatasnya bisa diangkat. Saya sengaja tidak beli sink dengan 2 bak, karena saya butuh sink untuk mencuci loyang dan panci yang agak besar supaya muat. Saya tidak mau mencuci panci dan loyang besar di luar dapur. Dengan ukuran rumah kami yang tidak besar, gak mungkin punya dapur kotor – dapur bersih. Dapur nya cuma satu ini aja, harus bisa dimanfaatkan sebaik-baiknya.

Diatas rel saya tempelkan Bygel Rail dan container nya hasil berburu di Ikea setiap saya tugas luar dari kantor. Lumayan nyicil berburu di Spore, Kuala Lumpur, Dubai, dll. Pokoknya banci Ikea banget deh.

Sisi kanan dapur:

Bagian kanan ini tempat menyimpan bahan makanan dan peralatan bikin kue. Lemari atas dengan list merah atas berisi bahan bikin kue (berbagai tepung seperti terigu – maizena – tepung panir – dll, gula, mentega, berbagai pewarna kue, coklat bubuk dan chips). Saya memang selalu nyetok, jadi setiap saat anak-anak minta cemilan … tinggal cemplang cemplung ngadon aja.

Lemari putihnya berisi berbagai cetakan kue dan puding, timbangan bahan kue, cookie cutter, aneka loyang dan spatula. Bagian bawah berisi bahan makanan (aneka pasta seperti makaroni – spageti – lasagna, stok garam, dan aneka bumbu dapur)

Hiasan dindingnya juga dari Ikea: magnet untuk menyimpan pisau dan gunting, Bygel basket untuk menyimpan aneka kecap dan saos. Jadi lebih rapih dan gampang cari saat butuh.

Tempat bumbu dapur bubuk dengan bentuk meliuk ini saya temukan di toko kelontong saat ke Utrecht – Belanda tahun 2003. Selama 7 tahun tempat bumbu ini duduk manis aja di dalam dus. Kasian ya baru bisa dipajang tahun 2010 hahahaha.

Saya pernah cerita tentang tempat bawang dipostingan ini kan yah? Jadi gak perlu ditulis disini. Ada yang tanya “gak terlalu besar tuh untuk tempat bawang?” Untuk saya yang ke pasar nya cuma sebulan sekali, tempat ini gak besar. Cukup untuk stok bawang merah-putih-bombay selama sebulan. Hehehe

Owh iya hampir lupa …

Saya juga memasang vertical blind sebagai penutup jendelan. Supaya mecing, saya pesan warna putih kombinasi merah sedikit. Diatasnya saya taruh jam warna yang sama.

Udah segitu aja kok.

PR saya lunas yaaaa

Umroh part 5 – Sisa Cerita


Banyak orang bilang, kalau kita mungkin akan mengalami hal-hal ‘ajaib’ selama di Tanah Suci. Hal ini kadang membuat orang takut untuk berangkat, karena takut perbuatannya di tanah air akan berdampak ke dirinya saat berada disana. Sudah jelas dong, yang takut itu pasti karena perbuatan jeleknya. Kalau yang berbuat baik mah, pasti percaya diri aja kebaikan akan datang juga.

Saya sendiri gimana?

Pasrah aja lah hehehehe

Beratnya Umroh ke 2

Walau saya tidak mau memaksakan diri dalam menjalankan ibadah ini, tapi saya bertekad untuk bisa maksimal dan memanfaatkan waktu sebaik-baiknya. Makanya ketika travel agent memberikan jadwal untuk umroh tambahan, saya berdiskusi dengan pakde dan janjian siapa mau meng-umroh-kan siapa. Takutnya kami meng-umrohkan orang yang sama, sayang waktu dan tenaga aja sih.

Umroh ke 2 pakde, didedikasikan untuk ayahnya yaitu kakek saya. Umroh ke 2 saya, didedikasikan untuk ibunya mami dan pakde yaitu nenek saya. Saya belum pernah bertemu dengan kakek, jadi takut gak dapat ‘feel’ nya kalau mengumrohkan beliau.

Sementara kalau nenek, saya pernah tinggal bersamanya beberapa bulan menjelang akhir masa hidupnya. Saya cukup dekat dengan nenek dan mendampinginya ketika beliau menyatakan ke-Islam-annya. Sebelumnya keluarga mami memang menganut Katolik. Nenek saya pun rutin menjalankan ritual kejawen. Primbon, kemenyan dan sajen adalah hal-hal penting diseputaran hidupnya.

Alhamdulillah sekitar 5-6 bulan sebelum meninggal, nenek memilih Islam sebagai jalan hidupnya. Kejawen pun ditinggalkannya. Beliau aktif ikut pengajian dan belajar iqra. Hari terakhirnya diawali dengan mandi keramas (rambut panjangnya hampir menyentuh belakang dengkul), kemudian masak banyak yang dibagikan ke tetangga juga minta diantar membeli karpet untuk mesjid dekat rumah. Saya yang tinggal dirumahnya sempat heran dengan kejadian ini, tapi tidak berpikir yang lain … cuma fokus membantu beliau saja sampai mengantarkan masakan ke tetangga. Malam itu saya ijin pulang ke rumah orangtua, tapi ternyata malam itu juga nenek ‘pergi’ ketika saya tidak disampingnya. Hiks.

Makanya ketika ada kesempatan umroh ke 2, saya memilih nama beliau untuk saya umrohkan.

Karena sudah ada pengalaman umroh pertama, seluruh prosesi berjalan lancar sampai … ibadah Sa’i (jalan dari Safa ke Marwah dan sebaliknya sebanyak 7x). Saat perjalanan ke 3, kaki kiri saya sakit sekali. Rasanya seperti ketusuk beling. Saya jalan terseok-seok. Sampai diujung marwah, saya minta pak Ustadz berhenti sejenak. Saya cek kaki saya dengan membuka kaos kaki, tidak ditemukan pecahan kaca/beling, tapi begitu kaos kaki saya pakai … sakitnya datang lagi. Berhubung tidak enak dengan anggota group yang lain, saya paksakan jalan lagi walau terseok-seok sampai ujung Safa. Saya cek lagi kondisi kaki dan kaos kaki, tidak ditemukan juga. Saya juga mikir, bagaimana mungkin ada pecahan kaca atau beling di lantai marmer dalam kawasan Masjidil Haram. Saya lanjutkan jalan lagi, saat melewati pintu yang menghadap Ka’bah saya istighfar 5x sambil berdoa dalam hati “Ya Rabb, ampunilah segala dosa almarhumah. Jadikanlah ibadah umroh yang saya lakukan ini, tercatat sebagai bagian amal ibadah beliau

Subhanallah … ilang loh sakitnya!

Saya bisa melanjutkan sampai perjalanan ke 7 dengan lebih baik.

Waktu saya cerita ke mami, langsung deh komentar “mungkin karena dulunya mbah mu suka hal-hal klenik, yah

Wah gak ngerti deh. Saya gak berani berasumsi apa-apa. Yang penting saya sudah niat umroh atas nama almarhumah, dan berusaha menjalankannya sepenuh hati saya. Semoga Allah mengampuni dosa kami dan menerima ibadah tsb. Amin ya Rabb.

—————-

Ustadz Palsu


Ini sebenarnya buka aib sih, tapi gak papa lah … bukan aib saya *sungkem ke Masguh*. Hahahahaha

Masih berhubungan dengan ‘semua dibayar kontan di tanah haram” nih. Waktu kami ke kebun kurma – Madinah, bertemu sekilas dengan Ust. Yusuf Mansyur. Banyak teman dan saudara yang bilang kalo wajah Masguh mirip dengan beliau. Begitu bisa ketemu langsung, Masguh langsung mengejar Ust. YM yang sedang bergegas menuju bus. “Foto bareng ah, abisnya banyak yang bilang mirip” sayangnya gak kesampaian.

Begitu sampai di Mekah, saat sedang makan malam di restoran hotel … tiba-tiba Masguh disamperin oleh seorang ibu yang mengajak salaman “Apa kabar ustadz?

Masguh kaget tapi berusaha tersenyum “alhamdulillah baik, bu

Eh ibu itu pergi dan balik lagi membawa teman-teman rombongannya. Semuanya berebut minta salaman sama Masguh.

Ustadz yang waktu itu ceramah di Bukit Tinggi kan?

Saya pun bertatapan dengan sepupu saya sambil cekikian.

Masguh disangka Ustadz Yusuf Mansyur. Bwahahahahaha

Lagian ngejar-ngejar ustadz di Madinah, eh dibayar kontan di Mekah disangka beliau. Hahahahahaha

Coba liat deh, emang mirip gitu?

Seluruh posting tentang Umroh bisa dibaca disini: http://www.masrafa.org/category/jalan-jalan/umroh/

My Little Kartini


2 tahun lalu saat merayakan hari Kartini pertama di Playgroupnya, dari rumah Fayra sudah rapih menggunakan kebaya dan bergaya seperti ini:

Manisnya anakku!

Eladalah sampai sekolah … kok nya gaya nya begini:

Hahaha tau dong nurun siapa?

Konfirm lah ya, kalo ini anak saya. Gak perlu test DNA hihihihi

——

Tahun ini kembali merayakan hari Kartini di TK nya, masih menggunakan kostum yang sama. Kali ini saya hanya menerima foto dari ibu-ibu di bbgroup, tanpa menyaksikan langsung. Dari foto dibawah ini, saya langsung bisa menebak mana kah Fayra:

Hayoooo bisa tebak gak yang mana?

Jelas lah yang kakinya ngejeblak itu dong anak saya. Hahahahahahaha

Umroh part 4 – Mekah


Baru aja postingan sebelumnya saya berjanji untuk menjaga kesehatan, ternyata 1 hari setelah saya update blog eeehhh saya sakit -_-

Jumat di hari lahir saya tsb kebetulan saya mengerjakan project di kantor sampai jam 8 malam, besok pagi nya harus menghadiri 2 rapat lagi mulai jam 8 pagi. Pulang kantor badan demam, lanjut diare. Lemas dan kliyengannya berlanjut sampai Selasa. Kaya’nya ini karena kecapekan akut (akumulasi dari Feb), sarapan telat dan salah tempat (warteg Wati – Sabang dicoret dari list).

Alhamdulillah sekarang sudah mulai pulih, mari kita lanjutkan cerita Umroh sebelum basi dan saya males nulisnya lagi  hehehe.

———————-

Ternyata upgrade kamar saya berlanjut sampai di Mekah. Beginilah tampak kamar kami di Hotel Dar Al-Ghufran:

Terletak di kompleks hotel tujuh menara Abdulaziz, dimana terdapat jam terbesar dunia yang memiliki empat sisi dengan ukuran diameter 43 meter. Tingginya mencapai 400 meter, pencakar langit kedua tertinggi dan terbesar di dunia. Sisi jam ini dihiasi lebih dari 90 juta keping mosaik kaca berwarna, pada setiap sisinya masing-masing menorehkan tulisan besar “Allah” yang bisa terlihat jelas dari seluruh Kota Mekah. Dibawah hotel ini terdapat mall (tempat belanja lengkap dengan food court).

Begitu keluar dari gedung hotel, langsung menghadap ke Masjidil Haram tepat di pintu 1. Begini lah pemandangan spektakuler dengan jarak 50 meter dari hotel:

Owh yah, hari pertama kami sampai di Mekah … tiba jam 9 malam. Kami sudah menggunakan pakaian Ihrom dari Madinah, dan mengambil miqat di Dzulhulaifah Bir Ali. Miqat adalah batas yang telah ditetapkan untuk memulai ibadah haji atau umroh. Di tempat miqat kita mengucapkan niat Ihrom/Haji. Walaupun sudah mandi ihrom, mengenakan pakaian ihrom dan sholat sunah ihrom 2 rokaat di hotel saat di Madinah, tapi niat diucapkan di tempat ini. Kami tidak berhenti di Bir Ali, hanya mengucapkan niat di dalam bus dalam keadaan terus berjalan menuju Mekah untuk menghemat waktu.

Niat yang diucapkan: “Labbaika Allahumma umratan” Aku sambut panggilan-MU ya Allah untuk berumrah

Setelah niat diucapkan, maka berlakulah larangan ihram:

  1. Melakukan hubungan seksual atau apa pun yang dapat mengarah pada perbuatan hubungan seksual
  2. Melakukan perbuatan tercela dan maksiat
  3. Bertengkar dengan orang lain
  4. Memakai pakaian yang berjahit (bagi laki-laki)
  5. Memakai wangi-wangian
  6. Memakai khuff (kaus kaki atau sepatu yang menutup mata kaki)
  7. Melakukan akad nikah
  8. Memotong kuku
  9. Mencukur atau mencabut rambut
  10. Memakai pakaian yang dicelup yang mempunyai bau harum
  11. Membunuh binatang buruan
  12. Memakan daging binatang buruan

Kami melanjutkan perjalanan sambil terus melafalkan Talbiyah: Labaik Allahumma Labaaik, labaaik Laa Syarika Laka Labaaik Inal Hamda Wan Ni’mata Laka Wal Mulka La Syarikalah … Kami memenuhi dan akan melaksanakan perintah-Mu ya Allah. Tiada sekutu bagi-Mu dan kami memenuhi panggilan-Mu. Sesungguhnya segala pujian, nikmat dan begitu juga kerajaan adalah milik-Mu dan tidak ada sekutu bagi-Mu.

Dan saya pun mulai mewek …

Kami sempat berhenti menjelang sholat magrib di tengah jalan. Tapi karena Masguh berpesan “toilet nya kaya di jaman peradaban lain ma, kalau kamu masih bisa tahan … jangan pipis disini” maka saya dan jamaah perempuan lain memilih menunggu di bus, sementara yang lain sholat magrib disini. Kebayang gak sih para cowok-cowok menggunakan baju ihrom selama 6 jam di bus. Kedinginan pastinya, sampai gak bisa tahan untuk segera pipis walau kondisi toilet ala kadarnya. Hehehe

Makanya begitu sampai hotel, selesai pembagian kamar di lobby … kami langsung menuju kamar masing-masing untuk melakukan sholat. Yang belum sholat magrib, melakukan jama’ takhir sekalian Isya.  Setelah itu kami makan malam, dan bersiap untuk Umroh.

Tepat jam 11 malam kami berkumpul di lobby. Rombongan kami yang berjumlah 80 orang, dibagi ke dalam 3 group. Untuk memudahkan pengawasan, setiap group dipimpin oleh mutawwif (orang Indonesia yang tinggal di Saudi). Saya dan keluarga masuk dalam group 1 yang paling dulu menuju Masjidil Haram.

Memandang Masjidil Haram dari luar saja, saya sudah terpukau. Begitu masuk ke dalamnya dan melihat Ka’bah tidak jauh dari diri kami … mulai menangis. Alhamdulillah ya Allah, atas rahmatMU kami bisa sampai disini. Kami memenuhi panggilanMU ya Rabb.

Kami memulai tawaf dari pinggir Hajar Aswat, selurusan dengan batas yang di tandai dengan lampu hijau di pinggir.  Dengan posisi pundak menghadap Ka’bah, kami mengangkat tangan sambil berniat tawaf dan mengucapkan “Bismillahi Allahu Akbar

Berjalan melakukan tawaf dengan mengelilingi Ka’bah sebanyak 7x, kami tak sanggup menahan tangis. Sejenak kami lupa dengan segala do’a yang sudah disusun. Kami hanya bisa memohon ampun, mengucap syukur dan melirihkan doa sapu jagat:

Rabbana atina fiddunya hasanah wafil akhirati hasanatawwaqina a’dza bannar … Ya Rabb, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, serta selamatkanlah kami dari siksa neraka.

Setelah itu kami menuju makam Ibrahim AS untuk sholat sunah 2 rakaat.  Di lurusan multazam (dinding Ka’bah di antara Hajar Aswat dan pintu Ka’bah) kami melantukan do’a, konon ini adalah tempat yang paling mustajab untuk berdoa kepada Allah. Saat itu lah proposal hidup kami panjatkan … titipan doa saudara dan teman-teman kami sampaikan … semua masalah kami bisikan … semua harapan kami sebutkan.

Disini Masguh mengeluarkan catatan do’anya berupa selembar kertas A4 (dia memang lebih rajin, diketik dan di print loh).Waktu di Jedah, Masguh mengingatkan saya “katanya banyak teman titip do’a, sudah siap kertasnya? Mosok di depan Ka’bah kamu sibuk bacain doa teman dari arsip bbm sih”  Hehehehe betul juga. Akhirnya saya menyalin semua titipan do’a menggunakan kertas notes yang tersedia di kamar hotel, lumayan juga nulis manual 1 lembar kertas A4 bolak balik. Pegal tangannya … hehehehe

Pak Ustad sempat tersenyum sambil meledek “waaah… mau berdoa bawa contekan” Hahahaha gak tanggung-tanggung 2 lembar kertas A4 loohh. Yah daripada ada yang kelewat. Titipan doa kan amanah yang harus disampaikan. Dan saya lebih menerima titipan doa dari pada titipan barang. Jadi yang waktu itu titip doa lengkap dengan nama bin/binti siapanya, sudah saya bacakan yaaa.

Selesai berdoa, kami langsung melanjutkan Sa’i. Alhamdulillah ibu-ibu rombongan dari Padang yang bersama kami di group 1, semangat nya tinggi dan tenaganya kuat-kuat. Mereka biasa naik turun bukit di kampungnya, jadi hayuk aja diajak langsung Sa’i tanpa istirahat. 7x bolak balik dari Safa ke Marwah, dengan total jarak 2,8KM … lumayan juga loh. Kami selesai semua prosesi umroh pada pukul 1:30 dini hari. Baru deh melipir cari air zam-zam. Badan udah keringetan, walau sebenarnya malam itu lumayan dingin udaranya.

Senangnya bisa umroh bareng suami, karena kami selalu bergandengan saat tawaf dan sa’i. Sholat sunah dan duduk bersimpuh saat berdoa, juga berdampingan. Sampai ibu-ibu dalam group kami bilang “enak yah dek kalo abis nikah bisa langsung kesini bareng. Pengantin baru langsung bulan madu disini” hahaha iya bu, kami memang pengantin baru …. baru 13 tahun kok!

Tahalul adalah urutan terakhir dari rangkaian prosesi ibadah Umroh yang disimbolkan dengan memotong beberapa helai rambut. Dengan memotong rambut, tandanya berakhir sudah segala larangan ihrom. Rambut Masguh dipotong oleh ustadz, sementara rambut saya dipotong oleh Masguh. Untuk laki-laki disunahkan untuk menggunduli kepala. Tapi karena kami melakukan umroh 2x, Masguh menggunduli kepala nya setelah umroh yang terakhir selesai. Sebelumnya kami menerima info tempat cukur rambut yang murah (10 Riyal), tapi ada testimoni dari seorang bapak “kepala saya rasanya mau disembelih. Murah sih memang murah, tapi kasar banget tukang cukurnya“. Akhirnya Masguh memutuskan untuk cukur di barbershop dibawah hotel walau tarifnya 3x lipat. Tempatnya bersih, pisau cukurnya baru, petugasnya ramah dan kami tidak perlu jalan jauh.

Masjidil haram itu tidak pernah sepi. Jadi kalau mikir “tawaf jam berapa ya yang agak sepian?” … gak akan pernah terjadi. Hehehehe

Umroh pertama kami lakukan jam 11 malam – selesai jam 1:30. Kemudian kami tawaf lagi jam 8 nya, sebelum sholat dhuha. Umroh kedua kami lakukan ba’da dzuhur sekitar jam 2 siang. Meski mataharinya pamer dan lantai marmer memantulkan balik sinar (wajib pakai kacamata item deh kalo tawaf siang bolong gini), tetap aja rame tuh. Paling padat sih kalau tawaf abis ashar dan abis isya, ini waktu favorit banyak orang. Jadi akan penuh banget tuh sekitar ka’bah.

Foto diatas itu saya ambil ketika bubaran sholat dzuhur, dihalaman mesjid menuju hotel. Udah kaya bubaran sholat Ied di mesjid Istiqlal kan? Itu baru sholat dzuhur biasa loh. Untuk hari Senin dan Kamis, penuh luber saat magrib sampai isya. Karena banyak penduduk sekitar yang mengajak keluarganya untuk buka puasa bersama di Masjidil Haram. Begitu pun saat sholat jumat, saya yang datang ke mesjid 1,5 jam sebelum adzan (sekitar jam 10:30), udah kebagian di halaman aja gitu. Padahal kan panasnya ampuuunn, belum lagi debu karena di sekitar mesjid banyak pembangunan gedung bertingkat.

Penjagaan askar di Masjidil Haram tidak seketat di mesjid Nabawi. Bahkan disini disediakan plastik untuk tempat menyimpan alas kaki. Saran saya jangan menyimpan alas kaki di tempat penitipan, mending dibawa masuk ke dalam aja deh. Selain jauh, ribet juga kalau kita harus antri ambil titipan. Sementara jumlah jamaahnya seperti tampak pada foto diatas itu.

Masguh tidak mengeluarkan DSLR nya disini, kami juga tidak banyak foto-foto seperti yang dilakukan di mesjid Nabawi. Pokoknya disini fokusnya ibadah … ibadah … dan ibadah. Tiap malam sebelum tidur, wajib ngoles minyak angin ke betis deh soalnya pegal banget. Tetap deh ya… 3 hari rasanya kuraaaaanngg ajah.

Seluruh posting tentang Umroh dan persiapannya bisa dibaca disini: http://www.masrafa.org/category/jalan-jalan/umroh/