Pendidikan untuk anak

Karena bertugas menjadi panitia acara buka puasa bersama alumni STM Telkom angkt.2, saya bersama teman-teman melakukan survey ke 5 panti dalam 1 hari Sabtu kemarin. Di mobil terjadi diskusi seru yang menyatukan kami semua, apalagi kalo bukan ANAK. Mulai dari kicauan anak-anak kami, kelakuan mereka yang menggemaskan, perkembangannya, sekolah dan segala kegiatan yang diikuti anak-anak.

Lokasi yang terakhir kami kunjungi adalah Pesantren Daarul Quran Mulia di daerah Gunung Sindur. Mayan jauh yah dari lokasi pertama dan kedua di sekitar TMII, lanjut ke lokasi ke 3 ke daerah Jati Asih, sementara lokasi ke 4 di Cibubur arah Kelapa Dua. Terakhir kami langsung masuk tol keluar BSD untuk menuju arah Parung.

Kebetulan salah seorang teman saya kenal dengan pendiri pesantren tsb. Bahkan karena sudah begitu dekat, teman saya mendapatkan waktu khusus setiap selasa malam untuk berdiskusi di rumah pak Ustadz. Begitu mendengar beliau berada di pesantren malam ini, kami langsung kesana dan menyampaikan maksud mencari tempat untuk reuni + berbuka puasa + menyantuni anak yatim & dhuafa.

Alhamdulillah beliau bersedia memfasilitasi dari menyediakan mesjid untuk sholat magrib berjamaah, lantai 2 untuk digunakan makan bersama, mencari 100 dhuafa di sekitar panti dan 22 anak yatim yang tinggal di pesantren, sampai membuatkan 100 paket sembako dan nasi box untuk konsumsi acara. Alhamdulillah, kami tinggal bawa diri dan keluarga kesana.

Saat diskusi, pak ustadz menyampaikan program pendidikan di pesantrennya. Sekolah yang didirikannya mulai dari TK – SD – SMP sampai SMA. Jam belajar TK sampai dzuhur, SD sampai ashar, sementara SMP dan SMA menginap di pesantren (boarding school).

Kemudian teman saya bertanya: “apakah sih poin yang harus kita cari dalam sebuah sekolah pak?

Yah maklum lah, kami semua kan orang tua baru. Anak-anak kami baru memasuki usia sekolah. Jadi diskusi ini mulai menarik karena berharap ada masukan untuk kami yang masih harus belajar banyak tentang KELUARGA.

Pak ustadz menjawab: “sekolah yang mengutamakan dan mengajarkan juga mengimplementasikan pendidikan akhlak dan ibadah. Selain itu sekolah juga harus bisa memberikan materi untuk membuka wawasan anak terhadap lingkungan sekitarnya.”

Saya tergelitik untuk bertanya: “tapi ada yang berpendapat kalo pesantren hanya mengutamakan pendidikan agama dan kurang dalam membuka wawasan anak terhadap perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, pak

Pak ustadz menjawab:”tidak benar pendapat itu. Pesantren disini mengikuti kurikumlum pendidikan nasional, menambahkan materi ttg agama, dan memberikan fasilitas komputer supaya anak-anak tidak ketinggalan teknologi informasi. Bahkan beberapa pengajar disini pun doktor dari PUSPITEK

Teman saya ngeledek: “jadi kira-kira mana yang harus dipilih pak, sekolah umum atau sekolah islam terpadu atau sekolah internasional. Soalnya 2 teman saya ini menyekolahkan anaknya di sekolah internasional. Apa benar itu yang paling bagus untuk anak, pak?

Jiaaahhh dia gak tau aja tuh, kalo saya memasukan anak-anak ke sekolah internasional bukan karena gaya. Tapi karena kebetulan Rafa gak dapat bangku di 8 sekolah lain. Waiting list gak jelas, daripada gak sekolah … ya dimasukin ke sekolah yang ada aja toh.

Pak ustadz tersenyum sambil menjawab: “emang kalian nyari apa di sekolah internasional? pingin anak bisa bahasa asing? di pesantren ini anak-anak bisa bahasa inggris dan arab. Kalaupun skrg saya panggil mereka untuk berpidato, kalian tinggal tunjuk mau anak yang mana dan disampaikan dalam bahasa apa. Insya Allah mereka semua siap. Anak-anak disini juga pernah ikut pertandingan cerdas cermat untuk propinsi jawa barat, dan mereka mendapat juara ke 2. Gak kalah kan secara pengetahuan umum?

Saya lanjut bertanya: “tapi kenapa harus menginap sih pak? Memang gak cukup sekolah sampai sore aja?

Pak ustadz menjawab: “kami memberikan pendidikan 6 tahun disini dan berharap anak bisa menghafal, memahami dan mengamalkan Al Quran. Target kami, anak-anak bisa menghafal 5 juz pertahun atau 4 halaman per hari. Kalau mereka pulang ke rumah, pendidikan dirumah tidak akan bisa sedisiplin di sekolah. Biar orangt tuanya seorang guru yang sangat tegas di sebuah sekolah, tapi belum tentu bisa menerapkan disiplin ke anak kandungnya dirumah. Lagipula rasa rindu anak dan orang tua, ketika mereka bertemu akan menimbulkan rasa cinta yang luar biasa“.

Saya melanjutkan pertanyaan: “tapi pak, saya kan seorang ibu. Rasanya kok berat yah ‘menitipkan’ anak diusia 12 tahun. Gimana caranya supaya saya siap mental jika anak saya masuk boarding school. Selain itu juga bagaimana menyiapkan sang anak itu sendiri, supaya mau tinggal jauh dari orang tua?

Pak ustadz kembali tersenyum: “wajar kok. semua orang tua merasakan yang sama. Orang tua harus ikhlas dan yakin kalo anak mereka dititipkan ke tangan yang tepat. Sementara si anak sendiri harus dilatih untuk berada jauh dari orang tua, mulai dari menginap di rumah saudara atau mengikuti pesantren kilat yang hanya semalam atau beberapa hari

Diskusi terus bergulir sampai menjelang Isya. Memang tak lebih dari 30 menit, tapi kami mendapat banyak pelajaran dari beliau.

Pulang dari sana otak dan hati saya terus bergejolak. Banyak pertanyaan yang memenuhi kepala saya, dan membutuhkan pemikiran yang dalam untuk menjawabnya.

Apakah kami sudah menerapkan pendidikan yang baik untuk anak-anak dirumah?

Apakah kami sudah mengajarkan akhlak dan penerapan ibadah serta menjadi contoh nyata bagi anak-anak?

Apakah anak-anak sudah mengenal dan mencintai Tuhan serta mengamalkan kitabNYA?

Apakah kami sudah memberikan sekolah yang tepat untuk anak-anak?

Apakah kami sudah memberikan fasilitas yang benar bagi anak-anak supaya wawasan mereka terbuka akan perkembangan jaman?

Sampai kapan kami akan terus ada untuk anak-anak?

Apakah anak-anak bisa mandiri tanpa kami nanti?

Dan masih banyak lagi pertanyaan lain yang bermunculan dan membuat saya gagu dan terus menunduk lebih dalam.

Anak adalah amanah atau titipanNYA yang harus kita jaga.

Pendidikan anak adalah kewajiban kami.

Membuat anak sehat, cerdas dan beriman, itulah tugas dan tanggung jawab kami sebagai orangtuanya.

Tidak mudah, tapi bukan tidak mungkin!

Semoga kita bisa menjadi orang tua yang baik untuk anak-anak. Amin

5 thoughts on “Pendidikan untuk anak

  1. sejak gue baca negeri 5 menara ini, emang terbesit *duileh bahasa gue, terbesit* masukin anak ke pesantren. iseng2x nanya sama mereka, mau ngga sekolah di pesantren *jelas ngga, wong masih TK disuruh ngebayangin jauh dari rumah*.

    Ngga lama, gue ikut parenting seminar sama *duh, lupa, Ibu Elly apaaa gitu, suka di TVRI kok*. Dia butuh 3-4 tahun gitu untuk meyakinkan anak2xnya (dan dirinya sendiri) untuk lanjut ke pesantren. Saat itu mereka tinggal di USA, dan ketika anak pertamanya said *yes*, mereka balik ke Indonesia, nyari pesantren dari ujung aceh sampe Jawa timur situ cari pesantren. Terus anak keduanya nyusul.

    Anak ketiganya nyusul juga, tapi….akhirnya anak ketiga ini nelpon dia minta “ditarik” lagi karena tidak sesuai dengan kata hati anak ketiganya ini. *kalo ngga salah, anak ketiga ini agak kesal ketika dia salah, itu jadi bahan “pelajaran” yang seluruh warga pesantren harus tau*

    well, semua ada konsekuensinya…
    kalo kata adek gue siy tentang ide gue:
    “halah, kalo elo mah biar bisa jalan2x ngga usah bingung anak ditinggal sama siapa kan….”
    cih!

    PS : panjang ya bowww komen gue…

  2. belajar agama adalah fardhu ‘ain. tidak ada gunanya punya titel profesor tapi nggak punya ilmu agama…garing judulnya :-)

    aku dulu termasuk penentang ketika suamiku bilang anak2 harus masuk pesantren…tapi banyak hikmah sehingga sekarang aku jadi supporter mereka…kuncinya ikhlas…”karena orang islam harus belajar kepada para ahlinya”

  3. Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh !
    Pak Ustadz yang terhormat, Anak saya ingin masuk pesantren dan sebelumnya
    saya mau mengetahui berapa biaya masuknya di pesantren ini dan kapan mulai buka pendaftaran serta apa saja pensyaratannya.
    Atas jawabannya kami haturkan terima kasih

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>