Komposisi Pengeluaran Bulanan

Siang ini saya makan bersama 5 teman wanita dan berdiskusi sangat seru. Dimulai dari salah seorang teman yang masih single, bertanya “eh emang bulan depan idul adha ya? waah gw gak punya uang untuk beli kambing kurban. gw pikir masih lama

Biasa deh gw, naluri emak-emaknya keluar … bawel “laaahhh kemana aja lo? kalo elo rutin nyisihin 100rb/bulan diniatin utk kurban, harusnya setahun cukup tuh untuk beli kambing

Dilanjut deh “iya yah…duit gw kemana aja ya mbak? harusnya ngatur duit tuh gimana sih? komposisi pengeluarannya harus gimana?

Akhirnya jadi ngomongin financial plan deh. Yah walaupun saya bukan ahli bersertifikat, tapi pengalaman ikut financial planner selama 1 tahun cukup memberi saya wawasan. Bahkan sampai saat ini saya masih menerapkan semua ilmunya untuk mengatur keuangan keluarga.

Yang paling mendasar untuk mengatur keuangan, kita harus mengubah dulu pola pikir bahwa tabungan hanya diambil dari sisa uang yang ada. Yang benar adalah:

Pengeluaran = Pendapatan – Tabungan

Jadi kita harus menyisihkan uang untuk ditabung, dari pertama kita menerima gaji atau pendapatan.

Nah berapa yang harus ditabung?

Kalau bisa sih, minimal tabungan 10% dari pendapatan.

Sementara cicilan hutang maksimal 30% dari pendapatan. Yah gak  munafik lah, untuk keluarga pemula seperti saya, punya rumah dan kendaraan pribadi itu kadang harus memaksakan diri. Gak akan kekejar kalau kita beli rumah secara tunai dari hasil tabungan. Karena harga properti selalu meningkat setiap tahunnya. Sementara bunga tabungan gak pernah lebih dari 10%. Mau gak mau kita mengandalkan KPR dari bank, dengan cicilan 5-20 tahun.

Dengan komposisi tersebut, kita masih punya 60% untuk pengeluaran setiap bulan.

Kalau kita gak punya cicilan hutang, yang ditabung bisa jauh lebih besar lagi.

Untuk yang sudah berkeluarga, apalagi punya anak … sepertinya komposisi pengeluaran seperti ini yang ideal:

  • Tabungan 10% –> dibagi untuk tab dana darurat, tab pendidikan anak, tab pensiun, tab haji, tab rekreasi
  • Cicilan hutang 30% –> dibagi untuk cicilan rumah dan cicilan kendaraan (mobil / motor)
  • Pendidikan anak 20% –> dibagi untuk bayar SPP, antar jemput, les/kursus
  • Pengeluaran rutin 20% –> dibagi untuk belanja bulanan, listrik, telpon, PAM, gas, gaji pembantu, dll
  • Pengeluaran harian 20% –> digunakan untuk tranportasi harian, belanja dapur harian, makan siang dikantor, dll

Trus kapan senang-senangnya?

Nah tinggal diatur deh tuh 40% pengeluaran rutin dan hariannya.

Jangan sampai utak atik tabungan, apalagi mengorbankan kebutuhan pendidikan anak!

Kalau dirasa 40% itu gak cukup juga, maka perkecil lah cicilan hutangnya. Kalau bisa malah gak punya hutang.

Gak cukup juga? Silahkan perbesar pendapatan!

Cuma ada 2 jalan untuk memenuhi kebutuhan hidup yang selalu dirasa kurang:

  1. Perkecil pengeluaran (turunin gaya hidup)
  2. Perbesar pendapatan (cari bisnis sampingan atau kerjaan baru yg gajinya lebih besar)

Mau pilih yang mana?

Dicoba yuk komposisi diatas. Lakukan secara rutin dan teratur deh. Rasakan sendiri bedanya. Kita akan sadar nantinya, bahwa ternyata kita bisa. Begitu lihat saldo tabungan … wuiiihh tambah semangat untuk memperbesar presentase tabungan.

Gak percaya? sok atuh dicoba!

5 thoughts on “Komposisi Pengeluaran Bulanan

  1. ribet gw de itung2nya :) ) gimana kalo situ aja yang jadi financial plan consultan gw :) ) setuju.. setuju???? huehehhehehe

    thanks for sharing.. semoga bisa belajar dari sini..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>