H1 Ramadhan 2010


Nelpon Rafa yang masih dalam perjalanan pulang sekolah (di mobil jemputan katanya)

Mama: Hi boy, are you still fasting?

Rafa: Iya lah, I don’t  have a reason to stop

Wowww … i’m proud of you, son!

—————————

Nelpon Fayra yang udah pulang sekolah di rumah

Mama: Dek Fay hari ini jadi puasa gak?

Fayra: Iya aku puasa ma. Nanti aku makan nasinya kalo udah adzan magrib. Sekarang aku makan jeruk dulu

whuahahahahahahaha

Beginning of new life


Sudah 3 minggu kami beradaptasi hidup di rumah baru, sekolah baru dan kantor baru. Masih mencoba mengenal tetangga-teman-lingkungan baru. Nyoba aktif di milis komplek juga. 3 bulan pertama mungkin agak berat untuk kami ber4, tapi kami yakin pasti bisa melaluinya dan menikmati keindahannya.

Rumah

Alhamdulillah rumah sekarang sudah mengakomodasi kebutuhan kami untuk saat ini. Rafa dan Fayra yang semakin besar, membutuhkan ruangan untuk kebebasan pribadi mereka. Sekarang mereka sudah punya kamar sendiri-sendiri yang letaknya bersebelahan. Mereka berbagi pendingin ruangan yang sama, dan kamar mereka terhubung oleh sebuah pintu geser yang bagian kuncinya berada di kamar Rafa (anak yang lebih gede, berhak mengatur privacy-nya hihihi).

Pemilihan warna diserahkan ke Rafa dan Fayra. Mereka yang menentukan tema, warna dan pernak pernik yang ada didalamnya. Pengaturan ruangan diserahkan ke mama tentunya.

Kamar Fayra

Warna yang dipilih Fayra adalah MERAH MUDA. Seperti anak perempuan lain seumurnya, Fayra loves every little pink! Tapi ada kecelakaan yang disebabkan kecacatan mata mama, yang harusnya kamar Fayra berwarna Shocking Pink + Soft Pink … eh malah yang dipilih catnya shocking pink + soft purple. Agak khawatir pas liat isi kaleng cat, tapi ternyata setelah dipoles ke tembok … lumayan juga.

Setiap ada orang yang ke rumah, pasti digeret Fayra “mo liat kamar aku yang kaya istana gak?” hihihihi *norak deh anak gw*. Cuma karena kelambu diujung tempat tidurnya dan sticker dinding bergambar castle dan putri dalam kereta kuda.

Dibagian ujung kaki tempat tidur ada sebuah meja kecil yang berisi perabotan lenong yang Fayra bilang “ini mekap aku“. Semua produk kecantikan dijejer dimeja itu mulai dari sisir, bedak, minyak telon, tisu, cutton bud, lotion sampai thermometer juga ada. Mama menyebutnya sebagai pojok dandan *halah ganjen amat*. Di dinding sampingnya terdapat rak gantung yang berisi aneka boneka Fayra.

Pokoknya kamar Fayra ini girly banget deh!

Kamar Rafa

Warna yang dipilih Rafa adalah BIRU. Kombinasi dari biru cerah dan biru lembut yang mendekati warna awan.

Furniture kami masih yang lama, tempat tidur pun masih menggunakan seperti foto diatas cuma dilakukan pengecatan ulang saja. Bagian atas tempat tidur tingkat yang tadinya menyerupai box bayi mulai dipereteli (dicopot-copot). Kebetulan design furniture dari awal memang sudah bongkar pasang dan diharapkan bisa digunakan untuk jangka panjang.

Bagian pagar tempat tidur sudah tidak digunakan. Tempat tidur atas digunakan di kamar Fayra. Sementara tempat tidur bawah digunakan dikamar Rafa. Bagian ujung kaki tempat tidur atas (foot board), ditaruh diujung atas tempat tidur Rafa. Cuma digeletakin aja dilantai, supaya terlihat sebagai head board tempat tidur Rafa.

Rafa minta ditambah ambalan kayu di dinding bagian atas tempat tidurnya untuk meletakan aneka lego hasil rakitannya. Ditambah 1 ambalan kayu untuk meletakan buku-buku bacaan koleksi Rafa. Pajangan dinding berupa gambar dunia, dipasang untuk membangkitkan semangat Rafa menjelajah dunia. Sebenarnya itu hanya kertas kado, cuma dibawa mama ke tukang bingkai trus dilapisi plastik dan dialasi triplek tipis aja.

Alhamdulillah pelan-pelan penumpukan kardus sudah mulai berkurang. Sebagian besar barang sudah menempati posisinya. Hanya tumpukan koper yang berisi baju mama-papa aja dipojokan kamar karena memang belum punya lemari pakaian dikamar tidur utama. hehehe napas dulu ah, nanti abis lebaran kalo ada rejeki baru nambah perabotan lain. Amin

Sekolah Rafa-Fayra

Selama ini Rafa-Fayra menikmati pendidikan sekolah Islam. Begitu masuk ke sekolah umum, terjadi lah shock culture. Yah namanya proses adaptasi. Ketika saya datang ke acara ‘parents orientation day’ dan mencoba mengelilingi lingkungan skolah, sampailah saya ke kantin yang letaknya di depan kolam renang. Waktu itu yang buka hanya 1 tempat makan dengan judul ‘Nasi Campur’. Benar saja, ketika saya lihat menu makanannya … saya menemukan 1 porsi nasi lengkap dengan sayur dan irisan tipis daging babi. Dari mana saya tahu? karena lingkungan kerja saya banyak yang non-muslim, dan menu tsb sering mereka makan di foodcourt Mall Ambasador. hehehehe

Kemudian saya ingatkan anak-anak untuk berhati-hati dalam mengkonsumsi makanan. Mulai tahun ini Rafa tidak akan ikut ketring di sekolah, tetapi membawa makanan dari rumah. Konsekuensinya adalah Rafa harus membawa beberapa kotak makanan. 1 botol minum + 1 kotak berisi cemilan + 1 kotak berisi nasi-lauk + 1 kotak berisi sayur + 1 kotak berisi buah. Yah harus selengkap itu karena kelas 4 SD ini Rafa pulang lebih sore dan memang lebih banyak kegiatan. Jadi supaya tetap bertenaga harus didukung dengan makanan yang kumplit. Itu pun diluar susu, 1x sebelum berangkat sekolah + 1x sore saat pulang sekolah + 1x saat mau tidur. Badan Rafa? tetap cungkring hihihihi

Ketika diingatkan untuk tidak sembarangan bertukar makanan, Rafa langsung menjawab “iya aku boleh tuker makanan dengan sesama muslim kan? kalo aku kasih makanan ke orang lain gpp, tapi aku harus hati-hati menerima makanan dari orang lain. ngerti kok ma” waaaahhh my big boy has grown up!

Disekolahnya sekarang Rafa bertemu dengan beragam anak dari berbagai agama - suku - juga warga negara. Ada temannya yang baru pindah dari China, komunikasi dilakukan dalam bahasa inggris karena bahasa mandarin Rafa baru dalam tahap permulaan. Disekolah ini pun Rafa jadi mengetahui bahwa di dunia ini ada berbagai macam kepercayaan atau agama.

ma … teman aku ada yang agamanya Budha loh. Ternyata ada ya agama Budha di Indonesia. Aku pikir cuma di luar negeri aja

hihihihi

Mungkin Rafa teringat saat jalan-jalan ke Bangkok beberapa waktu lalu. Karena disana kami mengunjungi beberapa temple dan melihat penganut agama Budha sedang menjalankan kegiatan keagamaan. Sementara Rafa belum pernah melihat kegiatan serupa di Jakarta.

Lucunya lagi sekarang Rafa jadi suka mengajukan pertanyaan ke teman yang baru dikenalnya “agama kamu apa?” Dan kaget saat teman satu mobil jemputannya ada yang menjawab “aku sih terserah mama-papa aja, kadang aku Kristen tapi kadang aku Budha

Wah mulai berat nih

Kami harus membekali pengetahuan agama yang lebih intensif ke anak-anak. Supaya benteng iman mereka menjadi lebih kokoh.

Disatu sisi kami memang sedikit khawatir, tapi di sisi lain kami merasa ada baiknya juga anak-anak mengenal perbedaan sedari dini. Supaya mereka paham bahwa Islam bukan satu-satunya agama yang ada di dunia. Supaya mereka bisa menghargai kepercayaan yang dianut orang lain. Semoga mereka bisa menikmati indahnya perbedaan dan bukan malah mempeributkannya.

Seperti yang ditulis @lucywiryono dalam timeline twitternya: “kenapa kita menaikan dagu saat berbicara mengenai Tuhan masing-masing. pdhl saat kita berbicara dan memohon kepadaNYA, kita menundukan kepala

Komunikasi masih menjadi kendala bagi Rafa dan Fayra di sekolahnya. Karena kami tidak mengajarkan bahasa lain sampai mereka bisa menyusun kalimat dalam bahasa Indonesia dengan baik dan benar. Untuk Rafa yang sudah diperkenalkan dengan bahasa Inggris dari umur 5 tahun saja masih agak susah. Rafa mengerti tulisan dan ucapan orang lain, tapi masih agak kesulitan menyampaikan isi pikirannya secara lisan dalam bahasa Inggris. Gimana Fayra yang hanya mengenal beberapa kosakata dalam bahasa Inggris. Tapi kami yakin mereka akan cepat belajar dan mengejar ketertinggalannya. Semoga 3 bulan kedepan mereka sudah bisa lancar berkomunikasi.

Alhamdulillah beasiswa Rafa sudah disetujui oleh kantor papanya untuk yang ketiga kalinya. We’re proud of you, son!

Untuk tahun ini, kami tidak memasang set yang terlalu tinggi untuk Rafa. Karena kami mengerti setahun pertama Rafa masih harus beradaptasi dengan lingkungan barunya, dengan bahasa inggris dan mandarinnya, dengan kurikulum sekolahnya, juga makin beratnya materi pelajaran dikelas yang lebih tinggi. Yang penting anak-anak bisa menikmati hari-harinya disekolah tanpa merasa terbebani.

Ah…sebentar lagi Rafa akan masuk SMP dan Fayra masuk SD. Cepat banget rasanya *belum siap mental punya anak remaja*

Semoga perjuangan kami tidak sia-sia. Semoga mereka menjadi individu yang lebih baik dari kami. Semoga Rafa dan Fayra bisa menjadi orang yang sehat, cerdas dan beriman. Amin

Curhat TBC


Mengukuhkan diri sebagai penyuluh TBC, berarti harus menyiapkan diri menjadi pendengar para pasien lain. Saya tahu itu dan sadar ketika menulis cerita pengalaman pribadi dalam menghadapi kuman TBC disini, tapi tidak menyangka efeknya sampai sedemikian rupa.

Awalnya memang hanya komen-komen di blog, yang sampai hari ini jumlahnya sudah  melewati angka 100. Diluar itu ada juga yang email dan minta nomor telpon. Biasanya mereka menceritakan penyakit yang diderita dan apa yang dirasakan, kadang bertanya apakah yang dialaminya benar TBC atau bukan, atau sekedar tanya referensi dokter dan RS yang bagus atau murah.

Mulai beberapa bulan lalu, saya mencoba menyempatkan waktu untuk bertemu mereka. Datang ke RS untuk mengunjungi pasien yang mau operasi. Atau bertemu pasien yang sudah operasi di mall. Pernah juga janjian kontrol bareng ke klinik bersama 2 pasien lain. Maaf kalau saat ini saya baru bisa menjangkau wilayah Jabodetabek dan Bandung.

Beberapa waktu lalu ada sebuah email dari salah satu anak pengusaha besar di Jakarta. Dia minta bertemu saya di sebuah coffee shop dan mengenalkan pacarnya yang tahun lalu sudah operasi tulang belakang. Disana mereka cerita tentang masalah lain yang kebetulan timbul karena efek sakit TBC. Orang tuanya tidak menyetujui hubungan mereka untuk kearah yang lebih serius, cuma karena pacarnya PERNAH sakit TBC tulang. Mereka minta bantuan saya untuk ngomong ke keluarga hanya karena saya pernah sakit yang sama.

Saya paham kekhawatiran orang tuanya. Karena anak ini merupakan anak laki satu-satunya yang diharapkan bisa meneruskan bisnis keluarga, jadi orangtua sangat selektif dalam memilih calon menantunya.

Disisi lain saya juga mengerti perasaan anak ini, dia sangat sayang sama pacarnya dan gak mau menggantikannya dengan wanita lain. Dia sudah paham konsekuensi yang akan dihadapi dan dia yakin pacarnya bisa hidup normal.

Mereka sudah mencoba bicara baik-baik ke keluarga. Sudah ngeprint tulisan di blog ini. Sampai mereka bawa surat pengantar dari dokter yang menyatakan bahwa pacarnya sudah dinyatakan sembuh dan penyakit yang pernah dideritanya itu tidak menular. Tapi orangtuanya tetap bilang TIDAK, dan mereka mulai putus asa.

Nah apa yang bisa saya lakukan coba? Gak mungkin kan saya tiba-tiba datang ke keluarganya dan ceramah tentang TBC *gak brani juga kali saya ketemu bapak yang terhormat itu hehehe*. Saya kan cuma orang luar yang gak ada sangkut pautnya dengan urusan keluarga mereka. Bingung gak tau gimana cara bantu mereka, selain menyarankan mereka untuk minta bantuan keluarga dekat yang sekiranya lebih “didengar” oleh orang tua nya.

Beberapa hari berikutnya saya menerima telpon dari seorang ibu yang memiliki 2 orang anak. Kebetulan ia seorang single parent. Anak terbesar usia 10 tahun, anak keduanya berusia 18 bulan. Ibu ini sudah selesai operasi dengan menghabiskan biaya 95jt.

Asuransi kesehatan dari kantornya, hanya mengcover 50jt. Sementara itu perusahaan malah memecat beliau dengan menawarkan pesangon 45jt yang diharapkan bisa menutupi kekurangan biaya RS. Alasan bos memecat karena dikhawatirkan si ibu tidak bisa bekerja normal lagi (kinerja menurun) setelah operasi.

Beliau telpon saya sambil menangis. Gimana nasib anaknya kalo ia tidak bekerja lagi? Ibu ini sudah tidak punya orang tua, tidak punya suami, dan sekarang harus kehilangan pekerjaan juga. Saya gagu, tidak bisa bicara sama sekali. Saya terdiam … cukup lama.

Kemudian ibu itu melanjutkan “maaf ya mbak de kalo saya jadi cerita seperti ini. Saya gak akan minta bantuan ekonomi ke mbak de. Saya cuma butuh teman untuk mendengarkan cerita saya aja. Saya masih akan berjuang untuk bisa sembuh, untuk bisa bekerja, untuk bisa menghidupi keluarga, dan untuk bisa menemani anak-anak saya sampai mereka dewasa

Masya Allah…

Ternyata apa yang saya alami tidak seperih mereka diluar sana. Dan saya sangat bersyukur kepadaNYA.

Alhamdulillah mereka telah membuka mata saya dan memberikan pelajaran yang berharga. Semangat mereka dalam menghadapi cobaan hidup sangat luar biasa. Semoga saya bisa menjadi teman dan penyemangat yang tidak pernah putus asa. Amin