Jujur ketika saya masuk ke dalam sarang penyamun berjudul STM, saya gak tau pasti apa yang akan saya lakukan dan pelajari disitu. Dan ketika sedang bermain layangan bersama kakak, ntah kenapa beliau tanya “kira-kira ntar lo belajar apaan yah disitu?” … jawaban saya sekenanya saja “belajar satelit kali. Namanya aja telekomunikasi”
Yah itu jawaban anak umur 15 tahun, yang milih STM cuma karena “keknya GW BANGET aja“.
Begitu mulai belajar, saya pasrah ketika ada pelajaran bernama dibawah ini:
- Teknik Digital
- Sentral Telepon
- Genset (catu daya)
Ternyata saya juga mempelajari cara membangun tiang telepon, kelandaian yang diperbolehkan untuk kabel telepon yang tergantung di pinggir jalan, sampai ke nomor kode area untuk telepon seluruh Indonesia. Itu semua saya dapatkan, diluar pelajaran standar seperti matematika, fisika, kimia, dll.
Setelah lulus, kami langsung diceburkan ke industri telekomunikasi. Selama 16 tahun bekerja di industri ini, banyak banget pelajaran hidup yang saya dapat. Selain gaji dan jabatan yang terus naik tentunya hehehe.
Ternyata pilihan anak culun 15 tahun dulu itu gak salah. Karena saya tumbuh menjadi orang yang suka dengan teknologi. Saya menikmati proses perkembangan alat-alat canggih. Dan saya bersyukur perjalanan karir membuat saya terdampar pada departemen yang bertanggung jawab atas perkembangan gadget.
What I love most about my job are:
- Free traveling
- Workshop
- Fun stuff
- Crazy things
- Lots of toys
Pekerjaan membawa saya merasakan berbagai jenis transportasi dan mengunjungi berbagai tempat yang mungkin kalaupun saya punya uang banyak, tidak akan berpikiran untuk jalan-jalan kesitu. Koleksi stempel di buku hijau saya menjadi beragam. Saya juga mendapatkan pengalaman menginap di berbagai macam kelas hotel. Dari hotel melati di sebuah kota kecil, sampai menginap di hotel bintang 3 – 4 – 5. Kalau bukan karena pekerjaan, gak mungkin saya merasakan kemewahan hotel ini. Dimana setiap hari saya selalu mendapatkan setangkai mawar dan sebatang cokelat di tempat tidur.
Banyak orang yang tidak suka kalau diminta menghadiri workshop dari kantor. Kalau saya justru sangat menyukainya. Karena workshop yang saya maksud ini adalah: working in shopping place and shopping in working hours. Hehehehe
Jangan ngiri yah, memang tugas saya mencari tau apa yang terjadi di pasar. Saya diminta meluangkan waktu untuk melihat trend, pertarungan harga, dan ketersediaan barang di toko-toko. Gak cuma itu, saya juga harus rajin mengunjungi pameran-pameran teknologi yang biasanya diselenggarakan rutin beberapa kali dalam setahun. Tidak hanya pameran di Jakarta, tapi pernah juga dikirim ke sebuah pameran terbesar di dunia. Saya pernah menulis apa saja yang saya temukan disana.
Bagian dari pekerjaan saya yang paling menyenangkan adalah bebas membongkar alat telekomunikasi. Untuk mempelajari onderdil dalamnya, kami bisa menelanjangi hanya dengan sebuah obeng. Tapi bukan berarti boleh bongkar tinggal yaa.

Kotak penyimpanan obat, kami gunakan untuk menyimpan SIMcard. Toples kue, kami gunakan untuk menyimpan berbagai baterai. Dinding workstation, kami cantolkan berbagai macam kabel data. Meja di dekat jendela, menjadi tempat pajangan berbagai kemasan atau dus. Orang dari departemen lain yang berkunjung ke sini, selalu bilang “macam di toko atau service center yah”
Manusia itu sangat kreatif deh, hasil karya manusia sering membuat saya terheran-heran. Kadang membuat saya terpukau saking canggihnya. Kadang membuat saya mengernyitkan wajah saking anehnya. Itu karena saya melihat handphone belapis emas, bling-bling norak, sampai yang bentuknya imut seperti boneka.

Apa yang tidak pernah kepikiran di otak saya, kadang tergeletak di depan mata saya. Setelah itu saya mikir, emang ada yang mau beli barang kaya gini?
I love gadgets, just like kid loves toys!
Lebih senang lagi karena saya tidak perlu BELI untuk bisa memainkannya. Berbagai jenis gadget wajib saya explore dan tersedia melimpah. Tinggal sebut deh: netbook, kindle, tablet PC, android phone, blackberry, modem, dll.
Saya mulai oprek-oprek 6 bulan sebelum beredar di pasar Indonesia. Artinya saya sudah pakai, sebelum orang-orang ribut ketika barang sudah mulai tersedia dan mereka beli.
Dengan semua yang saya dapatkan itu, apa saya masih pantas menyebut ini semua pekerjaan?
NO WAY!
Ini namanya hobi yang dibayar. Hehehe
Jadi kalau ada orang tanya “kerja lo apa sekarang, de?”
Saya bingung menjawabnya. Karena saya merasa seperti anak kecil di dalam taman bermain. Tidak ada beban. Tidak berani menyebut ini sebagai PEKERJAAN. Eh tapi saya dibayar. How can I not love it?
Kata orang “love your job, not your company because you never know when it stops loving you”
Sejauh ini saya juga menjalankan pernyataan tersebut. Saya mencintai pekerjaan saya, di 6 perusahaan yang berbeda. Pokoknya maju terus bela yang bayar. Hihihihi
Tentunya bukan berarti perjalanan karir saya semulus wajah yah *woii ngaca sana, de*
Setiap saya berhadapan dengan masalah pekerjaan, saya akan memikirkan hal-hal menyenangkan tersebut diatas. Supaya saya kembali ingat perjuangan saya untuk mencapai posisi ini. Yang paling penting agar saya tak lupa bersyukur dengan apa yang sudah saya dapatkan. Alhamdulillah … alhamdulillah … alhamdulillah.
Jadi apa yang paling kalian suka dari pekerjaan kalian?






Recent Comments